Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah hingga menyentuh Rp17.678 per dolar AS pada perdagangan 18 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik global, dan arus modal keluar dari negara berkembang.
Situasi tersebut menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan masyarakat desa tidak perlu terlalu khawatir terhadap kenaikan dolar karena warga pedesaan tidak menggunakan dolar AS dalam transaksi sehari-hari. Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
Namun, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah tetap berdampak pada masyarakat desa. Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda mengatakan dampak pelemahan rupiah akan terasa melalui kenaikan harga barang impor dan biaya distribusi. Menurut dia, kondisi ini dapat memicu imported inflation atau inflasi impor.
Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas seperti kedelai, gandum, dan bahan baku industri. Ketika rupiah melemah, biaya impor naik karena transaksi menggunakan dolar AS. Akibatnya, harga tahu, tempe, tepung terigu, hingga mie instan berpotensi ikut meningkat.
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet memperkirakan depresiasi rupiah sebesar 10 persen dapat meningkatkan inflasi hingga 2,5 poin persentase. Menurutnya, rumah tangga berpenghasilan rendah paling rentan karena sebagian besar pengeluaran digunakan untuk kebutuhan pangan dan energi.
Pelemahan rupiah juga berpotensi menaikkan harga pupuk, BBM, pakan ternak, hingga barang elektronik. Kondisi tersebut dikhawatirkan menekan daya beli masyarakat desa dan memperlambat aktivitas ekonomi di daerah.
Para ekonom menilai stabilitas nilai tukar rupiah penting dijaga agar tekanan ekonomi tidak semakin membebani masyarakat kecil.
Sumber: Diolah dari laporan Katadata.co.id


Leave a Reply